Iran Serang Dua Kapal Tanker AS di Selat Hormuz

Serangan Terhadap Kapal Tanker di Selat Hormuz Memperburuk Ketegangan
Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak yang dikawal militer Amerika Serikat (AS) saat melintasi Selat Hormuz pada Jumat (31/7) waktu setempat. Serangan ini disebut sebagai respons terhadap tindakan kedua kapal tersebut yang dianggap melanggar aturan pelayaran yang ditetapkan oleh Teheran. Insiden ini memperburuk ketegangan di salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Menurut pernyataan dari korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), kedua kapal tanker tersebut dihentikan setelah memasuki Selat Hormuz melalui jalur yang tidak diakui oleh Iran. IRGC juga menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut mendapat pengawalan udara dari militer AS, sehingga mereka dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan wilayah Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC mengungkapkan bahwa "kapal tanker minyak yang tidak patuh diserang dan dihentikan, sementara empat kapal tanker lainnya segera mengubah haluan dan kembali ke posisi sebelumnya." Menurut laporan, kapal-kapal tersebut mencoba melintasi Selat Hormuz melalui 'rute yang tidak diumumkan' di bawah pengawalan pesawat militer AS.
Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas Konflik
Insiden terbaru ini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai pusat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara sama-sama mengklaim memiliki aturan pelayaran yang harus dipatuhi kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut. Iran mengancam akan menyerang kapal yang menggunakan jalur selatan di dekat pantai Oman, sementara AS juga mengancam kapal yang dianggap melanggar blokade terhadap Iran.
Sejak konflik kedua negara kembali pecah sekitar dua pekan lalu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz nyaris terhenti. Gangguan terhadap jalur distribusi energi global itu membuat harga minyak dunia terus merangkak naik. Pada Kamis, harga minyak mentah bahkan telah melampaui USD 90 per barel setelah AS menyerang Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Konflik Meluas ke Kuwait dan Lebanon
Di saat yang sama, konflik juga meluas ke negara lain di kawasan Timur Tengah. Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan telah menembak jatuh sejumlah drone Iran yang mengarah ke 'fasilitas vital dan militer' tanpa menimbulkan korban. Sementara di Lebanon selatan, militer Israel melakukan ledakan besar di sekitar Kastel Beaufort. Israel menyatakan operasi tersebut menargetkan terowongan dan infrastruktur milik Hizbullah.
Ledakan itu terdengar hingga berbagai wilayah di Lebanon selatan dan menyebabkan kawasan di sekitar lokasi tertutup abu. Foto-foto dari lokasi juga menunjukkan area yang terdampak rata akibat besarnya ledakan. Pejabat Lebanon menuding Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata. Namun, militer Israel mengatakan operasi itu dilakukan untuk menjamin keamanan wilayah utara negaranya.
Rapat Kabinet Trump Bahas Perang Iran
Di Washington, Presiden Donald Trump mengumpulkan para anggota kabinet di Camp David, Maryland, untuk membahas perkembangan perang yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt sebelumnya mengatakan pertemuan kabinet tersebut akan menjadi 'sangat menyenangkan dan sesuatu yang berbeda untuk dialami bersama oleh anggota kabinet'.
Meski demikian, fokus utama rapat adalah perang melawan Iran yang sebelumnya dijanjikan Trump hanya berlangsung beberapa pekan, tetapi kini telah memasuki bulan kelima. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan dukungan publik terhadap perang terus menurun. Hanya sekitar sepertiga warga Amerika yang masih mendukung operasi militer tersebut, menjadi tingkat dukungan terendah sejak konflik dimulai.
Di Kongres, Senat AS juga gagal meloloskan resolusi simbolis yang meminta penghentian perang setelah memperoleh hasil pemungutan suara tipis 49 berbanding 50. Di sisi lain, konflik berkepanjangan justru mendorong keuntungan perusahaan energi. ExxonMobil mencatat laba dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara Chevron membukukan keuntungan lebih dari lima kali lipat di tengah melonjaknya harga energi global.
Posting Komentar